Senin, 27 Februari 2012

Animisme dan Dinamisme Dari Sudut Pandang Veda

AUM SWASTIASTU, ….

“Hindu adalah Agama Berhala”, “Hindu adalah ajaran Animisme dan Dinamisme”, dan lain sebagainya... Begitulah kata-kata miring yang dilontarkan oleh kaum abramik. Sebelum kita jauh melangkah, ada baiknya kita mengenal konsep ajaran Animisme dan Dinamisme. Kedua ajaran tersebut, pada intinya adalah mempercayai roh itu ada. Dan kata Animisme dan Dinamisme dari bahasa Latin, dari kata “anima” atau "roh". Namun perbedaan antara Animisme dan Dinamisme, terletak pada:
  • Animisme lebih mengarah ke roh yg abstrak (tidak bisa dilihat oleh indera mata biasa)
  • Sedangkan Dinamisme, lebih mengarah ke benda. Jadi benda tersebut diyakini ddiami roh/ ada penguasanya. Misal: Ada penguasa di pantai selatan, Cicin sakti, dll.
Dari Point awal, maka dapat dipastikan bahwa semua ajaran setuju terhadap adanya roh/energi. Namun bukan itu saja konsep ajaran Animisme dan Dinamisme. Berikut ini, akan saya sampaikan konsep-konsep yang lainnya, dimana antara lain :
  1. Dimana-mana ada roh² halus bermukim atau berkeliaran.
  2. Roh² halus dianggap lebih berkuasa dari pada manusia dan mengatur segala-segalanya.
  3. Nasib manusia ditentukan oleh roh².
  4. Roh² dibagi atas berbagai kelas yang ada hubungan dengan kekuasaan mereka.
  5. Roh² bisa mengganggu ketenangan manusia dalam berbagai hal dengan berbagai corak.
  6. Manusia dapat memohon pada roh² apa yang diinginkan. Untuk bermohon perlu adanya upacara² dan atau sesajen atau mantra tertentu.
  7. Biasanya dalam melakukan ritual, tidak bisa disimbolkan. Jadi harus Datang ketempat yg disakralkan.
  8. Roh bisa berpindah tempat.
  9. dll
Melihat konsep-konsep diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep ajaran Animisme dan Dinamisme, belum mengenal sebuah kesatuan atau dengan kata lain, belum mengenal kesamaan asal mereka (sang penguasa). Jadi... mereka yang menganut ajaran Animisme dan Dinamisme, menganggap sang punguasa itu berdiri sendiri-sendiri.

Dari Situ lah terjadi pemikiran, bagaimana ya kalau mereka (sang penguasa) ada crash, dan akhirnya terjadilah perang. Nah...inilah yang memicu kita untuk selalu mencari 1 sosok yang paling berkuasa... agar bila terjadi itu... ada yang menyelesaikannya.

Sedangkan di Veda... tidak seperti itu... memang tidak disangkal bahwa di suatu tempat ada roh atau ada sesuatu energi yang mendiami tempat tersebut. Namun... di Veda menerangkan bahwa mereka itu adalah sebuah bagian dari Brahman. Disini jelaslah sudah... bahwa mereka (sang penguasa) bukanlah berdiri sendiri-sendiri, melainkan mereka adalah bagian yang saling melengkapi, sehingga terjadilah apa yang disebut dengan aktifitas Brahman.

Point konsep selanjutnya... dikatakan bahwa “roh² halus dianggap lebih berkuasa dari pada manusia dan mengatur se-gala2-nya”. Sedangkan di Veda, telah menerangkan bahwa kondisi kita ditentukan oleh kita sendiri, bukan oleh siapa-siapa.
Terlebih lagi... di Veda mengatakan semua atman/roh adalah sama, yang membedakannya adalah peran/lakon yang ia emban. Dari keterangan tersebut, maka ditemukan satu lagi perbedaan konsep.

Point konsep berikutnya... adalah bahwa “Manusia dapat memohon pada roh² apa yang diinginkan”. Ini mungkin harus diluruskan.... Sekarang saya bertanya “Bila anda bermasalah dengan hukum dan anda memohon grasi, maka pada siapa yang anda rujuk?”... Saya beri 2 opsi , “Kepada persiden kah? Atau kepada Pak SBY?”
Bila anda jawab...”ke Pak SBY”, maka anda mungkin telah termakan konsep ajaran Animisme dan Dinamisme, dan itu bukan konsep Veda. Kalau pada konsep Veda, Jelas bahwa Pak SBY itu sama seperti anda... Namun Pak SBY memiliki jabatan Presiden. Sehingga yang harus anda rujuk, itu adalah jabatan kepresidenannya. Darimana asalnya energi/jabatan kepresidenannya? Jawabannya adalah , Dari sebuah kesadaran yg besar untuk beraktifitas bernegara. Dan kesadaran tersebut menjelma (yang salah satunya) menjadi Presiden.
Sampai disini Paham kan? Artinya ditemukan lagi perbedaan antara konsep Veda dengan konsep ajaran Animisme dan Dinamisme.

Tidak bisa dipungkiri, didalam memohon atau merujuk ke salah satu energi/jabatan Brahman, kita harus melakukan ritual. Contoh kasarannya: Kalau kita memohon grasi ke presiden, maka mau gak mau kita harus melakukan prosedur-prosedur. Nah... timbullah pertanyaan “Haruskah pakai sesaji?”. Jawabnya, Tdak harus.
Mungkin perlu saya terangkan lagi arti dan tujuan dari Sesaji/sesajen. Sesaji/sesajen adalah Salah 1 bentuk kesadaran kita dalam menyajikan permohonan kita dengan cara mewujudkan dengan simbol-simbol, dimana tujuannya untuk mengurangi ketidaksempurnaan kita dalam menyajikan suatu permohonan.
Analoginya begini: ada seorang pemuda, yang ingin menembak/meminang gadis dambaannya. Ya... mungkin pemuda itu beru pertama kali melakukan itu, atau entah mengapa.... Ketika pemuda itu menjumpai gadis dambaannya, tiba-tiba pemuda itu menjadi sulit bicara (gugup). Dan akhirnya ia memyampaikan isi hatinya tidak cantik alias tidak bisa dimengerti oleh gadis tersebut. Tapi untunglah pemuda itu membawa sekuntum bunga, dan diberikannya pada gadis tersebut. Dengan begitu gadis tersebut bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh pemuda itu.

Dari analogi tesebut, terlihat bahwa Sekuntum bunga dapat mewakili isi pesan yang ingin disampaikan. Sehingga jelaslah arti dan tujuan dari sebuah sesajen.


Selanjutnya ada kebiasaan dari penganut Animisme dan Dinamisme, yaitu dalam melakukan ritual, tidak bisa disimbolkan. Jadi harus Datang ke benda/tempat yg disakralkan, dengan kata lain mereka membuat stikma bhwa tidak ada benda/tempat yang lain di dunia ini, yang memiliki keistemewaan yg dimiliki oleh benda/tempat yang mereka sakralkan.
Hal ini bila dipandang dari sudut Veda, kuranglah tepat. Karena dalam mengakses keistemewaan yg dimiliki oleh suatu benda/tempat tertentu, maka kita diijinkan untuk menyimbolkannya, bahkan kita diijinkan menduplikasikan benda tersebut dalam rangka untuk memudahkan kita dalam berkosentrasi guna mengakses keistemewaannya.

Misal: Diyakini bahwa abu jenasah akan suci bila terkena air gangga... maka kita cukup ke laut/pantai terdekat, bahkan bisa dengan air biasa... tentu dengan mantra2 khusus

Sekarang ada ajaran... yang berteriak anti konsep Animisme dan Dinamisme, tapi mereka malah melakukan pratek-pratek tersebut. Lucu bukan?


Konsep yang lainnya dari ajaran Animisme dan Dinamisme, adalah Roh bisa berpindah tempat. Hal ini selalu dihubungkan dengan Reinkarnasi. Tapi konsep Animisme dan Dinamisme, sangatlah beda. Dimana mereka beranggapan bahwa setelah orang meninggal, maka roh itu langsung bisa menjalani proses kehidupan baru tanpa melalui proses kelahiran terlebih dahulu.
Misal: ada orang meninggal, maka rohnya bisa langsung berpindah ke tubuh babi langsung tanpa melalui proses kelahiran terlebih dahulu.

Dengan adanya konsep ini, akhirnya kesurupan adalah bukti nyata. Sementara di Veda, menyatakan tidak ada istilah pergeseran atman. Lalu bagimana hal ini dijelaskan oleh Veda?
Di Veda, sudah dijelaskan bahwa hal yang mungkin terjadi itu adalah atma bisa dilapisi oleh kesadaran. Jadi orang kesurupan itu... adalah mengeser kesadaraannya... bukan atmannya. Mengapa kesadaraan kita dapat dikuasai oleh kesadaran yang lain?
Jawabnya, karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain:
  • Kesadaraan kita tidak kuat,
  • Rela untuk kesadaran kita tergeser oleh kesadaran lainnya,
  • menganggap bahwa kesadaran yang mengusai kita adalah kesadaran yg lebih baik daripada kesadaran kita sendiri,
  • dll.
Kesurupan pada era ini... sangat banyak terjadi. Misal: Sekarang banyak orang di indonesia yang berlagak orang Barat, Orang arab. Padahal bukan itu kesadaran murni (jati diri) kita. Itu juga termasuk, fenomena Kesurupan. Tapi tenang.... ketika kesadaran luar tsb mencoba mengusai kita, dan bila kesadaran luar tsb bertentangan dengan lakon kita, maka itu hanya bersifat sementara.

Kemudian upacara 3, 7, 40 hari, dst setelah orang meninggal, ini juga ajaran Animisme. Apakah bertentangan dengan Veda? Lihat dulu konsepnya... apabila itu dilakukan secara kesadaran untuk menghormati/memperbaiki efek-efek yang ditimbulkan oleh orang meninggal tsb... maka itu sangat direkomendasikan. Tapi apabila itu dilakukan karena takut, pamer, dll, maka lebih baik jangan dilakukan. Karena itu akan berefek negatif pada kita.

Semua Ritual Yadnya... harus dilandasi oleh kesadaran shg muncullah ketulusan. Bukan karena takut, bukan untuk pamer... Intinya menjaga kelangsungan timbal balik, agar kita bisa memerankan lakon kita secara baik sehingga bisa me-realisasi-kan apa yang kita inginkan.

Sekali-kali..kita coba berfikir terbalik... bayangkan kita itu adalah Tuhan...sehingga kita dituntut untuk adil dalam memberi perhatian kepada tumbuhan, hewan, manusia, dan semua aspek di alam ini. Ketika kita melakukan itu, maka object-object yang kita perhatikan tersebut akan memberikan respon timbal baik... misal: Tumbuhan yg kita perhatikan, memberikan kita buah terbaik. Ini pertanda bahwa tumbuhan tersebut telah melakukan Yadnya untuk kita, dengan cara membuahkan buah terbaik untuk kita.
Hal ini lah yang didorong oleh Veda... sehingga ada statement SO HAM (Aku adalah Tuhan). Ingat! Tuhan bukan lah Brahman.... Tuhan disini, adalah salah 1 penjelmanan dari Brahman, atau salah 1 aktifitas dari Brahman. Karena dengan berfikir spt diatas... maka Jelas kita telah melakukan salah satu aktifitas Brahman.

Jadi... Apakah Hindu adalah konsep ajaran Animisme dan Dinamisme? Dan saya menantang anda berlogika, apa bila konsep ajaran Animisme dan Dinamisme, saya ganti dengan 1 roh saja, maka konsep nya seperti konsep ajaran siapa ya?

AUM SANTI… SANTI… SANTI…AUM.

Read more.....

Konsep Ke-Tuhan-an Veda

AUM SWASTIASTU, ….


Ada sebuah Ilustrasi yg cukup menarik, yaitu: Ada seorang yg kakinya buntung.... karena kecerdasannya maka dia mampu membuat kaki palsu. Shg ia mampu berjalan bahkan bisa berlari. Tapi kira2 mengapa orang2 dan bahkan dirinya sendiri, tetap menganggap bahwa dirinya masih cacat???
Jawabnya : Karena orang2 dan bahkan dirinya sendiri, masih menganggap bahwa kaki yang ia buat bukanlah bagian dirinya.
Hal ini hampir sama spt pemikiran ajaran abramik, dimana semua di alam semsesta ini merupakan ciptaanNya, dan bukan dianggap dari bagian dariNya. Kalau lah kita mau jujur, maka ini termasuk sebuah kecacatan. Entah itu kecacatan dlm Pemahaman, atau memang Tuhan secacat begitu? Saya tidak tau jelas... tapi itulah pemikiran mereka.

Bagi penganut Veda, Jelas semua adalah di dalam Tuhan. Konsep ini yg sering disebut dengan Panenteisme (bukan "panteisme"). Bedakan kedua konsep tsb, Kalau Panenteisme itu, adalah semua di dalam tubuh Tuhan, sedangkan panteisme adalah semua adalah Tuhan.
Memang secara sepintas lalu, kedua konsep tsb terlihat sama..... namun kalau kita camkan betul... konsep Panenteisme lah yg sangat identik dg ajaran Veda... Shg saya, anda, dewa-dewa, bahkan semuanya merupakan bagian dari Tuhan (yg disebut dg Brahman).
Kata Brahman pun juga sering diplesetkan menjadi kata Brahma, bahkan menjadi dewa Brahma. Maka dengan kesempatan ini, saya akan membahas kata2 tsb. Persamaan kata Brahman, kalau di Sastra Veda, sering kali disebut dg TAT, sedangkan kalau di Matram2, Beliau diidentikkan dg kata AUM. Bila kita telusuri lebih dalam lagi pada Veda, maka jelas Brahman itu bisa bersifat Nirguna, maupun Saguna. Berkehendaknya Brahman untuk menjadi saguna, menyebabkan Beliau mempunyai pola/bentuk/wujud. Nah... Para Rsi melihat atau (bisa mendefinisikan) bahwa ada 3 pola/bentuk/wujud utama dari Brahman saat berlila (Lila=aktifitas/olahraga).
Mungkin anda telah tau tentang ke-3 pola/bentuk/wujud utama dari Brahman, dimana seringkali disebut dg TriMurti.... Tri (3), Murti (pola/bentuk/wujud). Tri Murti meliputi Brahma, Visnu, dan Siva. Hal ini... janganlah diartikan Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siva.... Jangan.... sebab ini... kita baru bicara ttg pola/bentuk/wujud Nya dari Brahman, belum bicara ttg penjelmaan.
Bila anda sulit memikirkannya.... saya akan berikan analoginya, spt halnya, ketika anda beraktifitas, maka anda bisa nyanyi, makan, dan tidur... tapi lain halnya klo kita bicara ttg adanya Tukang Nyanyi (orang yg ahli bernyanyi), Tukang Makan (orang yg hobby/ahlinya makan saja), dan Tukang Tidur (orang yg ahli tidur saja / malas).
Dari analogi tsb... mungkin sudah terpikir bahwa Brahma dg Dewa Brahma, itu lain to pemahamannya....Visnu dg Dewa Visnu, itu lain to pemahamannya.... serta Siva dg Dewa Siva, itu lain jg to pemahamannya.... Shg kalau membaca/melantunkan matram.... AUM NAMO SIVA.... maka kira2 apa yang kita rujuk? Tentu jawabnya... Bkn Dewa Siva, melainkan aktifitas Brahman yg menjadi Siva... atau kasarannya kita memohon agar energi pola Siva dilimpahkan ke kita... supaya kita bisa menghancurkan sesuatu yang kita anggap sbg pengganggu...
Sekarang ada pertanyaan buat anda.... Dalam membangun tiang cor, Kira2 energi apa saja yg kita butuhkan? Brahma (pencetus ide) sajakah? Visnu (menjaga kelangsungan selama proyek) saja? atau Siva (sang finishing) saja?
Mari... kita telaah bersama2... Dalam membangun tiang cor, maka awalnya kita butuh perencanaan (dimana tiang itu berada, apa saja yg dibutuhkan, besi, papan,dll)... Ide2 spt itulah yg kita sebut Brahma. Kemudian... setelah selesai dg konsep2nya... maka kita mulai merangkai besi2, menegakkan papan2, lalu memberi kayu2... shg cetakan cor akan bisa berdiri selama proses pengecoran... artinya kita butuh kekuatan untuk menjaga kelangsungan selama proyek pengecoran... Jelas energi Visnu lah yg beraksi.
Kemudian setelah proses pengecoran selesai , dan adonan semennya mulai dingin/membeku... maka papan2 & kayu2 yg mana pada awalnya didirikan dan dikokohkan...sekarang justru dirusak/dihancurkan.... maka pada saat ini, energi Siva sangat dibutuhkan...
Dari penggambaran diatas... sangat jelas bahwa apapun tujuannya... maka AUM (A=Brahma, U=Wisnu, M=Siwa)... merupakan kesatuan yg tidak bisa terlepas satu sama yg lain, dan kesatuan tsb lah merealisasikan segala yang dikehendaki...

Lanjut lagi kita pada purana2..bila kita simak ke 18 maha purana. Maka kita dapat lihat bahwa tidak ada yg paling berkuasa, paling hebat, tak terkalahkan.... semua lakon pasti punya masa2 menang dan masa2 tunduk kepada lakon yg lain... Hal ini menunjukkan, sdh ada pemikiran bahwa kita tidak patut membanggakan/menyembah ke salah satu lakon saja, melainkan kita harus melihat itu semua merupakan satu kesatuan dlm rangka menuntun kesadaran kita menuju ke tingkat yg lebih tinggi...

Kembali lagi ke kata Dewa...Dewa lebih diidentikkan pada suatu makluk, dimana makluk tsb membawa salah satu energi/polanya Brahman, shg muncullah kata Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Siwa... artinya Energi tsb menjelma menjadi suatu makluk dg wujud yg sesuai dg kondisi alam. Shg begitulah jadinya.... bahkan dapat digambar spt arca sekarang ini...

Hal ini... mungkin menjadi cemoohan bagi orang abramik.... karena Tuhannya berwujud spt itu....
Kata Tuhan saja... bagi kita (pengikut veda) memiliki arti, Brahman yg sdh menjadi Saguna (berpola/ber-pratima). Shg terkadang...kita pun akan terjebak juga... akhirnya kata "Tuhan" disini disamakan dg keseluruhan Brahman (nirguna maupun saguna). Padahal ini jelas salah total...

Jadi... analoginya begini.... Dalam aktifitas, negara Indonesia mempuyai 3 pola aktifivitas, yaitu: Legislatif, Esekutif, Yudikatif.... disini orang2 indonesia pun jelas masih bingung... sebab akan timbul pertanyaan, apakah Legislatif itu? apakah Esekutif itu? dan apakah Yudikatif itu?
Shg perlu adanya sebuah penjelmaaan lagi... akhirnya timbulah kata "Badan Legislatif", "Badan Esekutif", "Badan Yudikatif"... disini, artinya pola aktifivitas negera sdh berbentuk badan/unit.
Tapi lagi2, orang2 indonesia masih bingung juga... sebab, pertanyaannya sekarang adalah Siapakah Badan Legislatif itu? Siapakah Badan Esekutif itu? Siapakah Badan Yudikatif itu?
Shg perlu adanya sebuah penjelmaaan lagi... akhirnya timbulah kata "Ketua MPR", "Anggota Dewan", "Presiden", "Mentri", "Hakim", dll... disini, artinya pola aktifivitas negera sdh berbentuk Personal.
Itupun, terkadang masih bingung juga... akhirnya timbullah pertanyaannya, Siapa sih Presiden nya? Siapa sih mentri2nya? Dll
Akhirnya oleh kesadaran Indonesia.... akhirnya Pak SBY menjabat Presiden.... shg dengan begitu...orang2 indonesia akan jelas dan paham....
Kemudian akhirnya fotonya Pak SBY dipajang di setiap instansi...

Terus...ada orang bodoh lihat fotonya Pak SBY... dan berkata ...hmmm begini to wajah indonesia.... Hal yg bodoh, bukan?
Lalu ada pertanyaan lagi buat anda.... ketika anda melihat fotonya Pak SBY... maka siapa kah yg anda rujuk untuk anda hormati? Pak SBY nya kah? atau Jabatan kepresidennya?
Kalau anda memilih "Jabatan kepresidennya", kira2 kenapa anda menghormati itu? Tentu jawabnya, karena anda menghargai salah satu penjelmaan kesadaran Indonesia.

Satu lagi, yg ingin saya bahas... yaitu Kata "Sembah". Lupakan sejenak adanya Brahman...anggap kita blm mengenal apa2. Maka... faktor apa yg menyebabkan seseorang itu melakukan penyembahan terhadap sesuatu? Tentu jawabnya, karena orang tsb sadar bahwa sesuatu itu pantas dihargai.... atau paling tidak, orang tsb sadar bahwa dia butuh akan sesuatu itu. Ya kan???
Artinya...kegiatan "Sembah" itu, pada dasarnya dilakukan secara kesadaran....
Namun karena keterbatasan kita dalam melihat efek dari sesuatu object...Shg kerap kali kita menganggap "ah... object tsb tidak berguna...ngapain aku hargai itu.". Tapi untung adanya Veda, dimana kita dipandu bahwa ada 5 komponen yg patut kita sembah, yaitu: Dewa, Rsi, Pitra, Manusia, dan Butha... sedangkan 5 komponen itu asalnya ya...ke Brahman lagi..... Shg pada sesungguhnya panca sembah pun pada intinya adalah kegiatan "Sembah" kepada Braman (Hyang Widhi) yg mana itu dilakukan dg kesadaran....

Ini juga sering kali jadi bahan cemoohan bagi abramik.... Tapi klo dia mau jujur dan mau berpikir... bagaimana kah cara Tuhan dalam berkerja? Sendirikah? atau Dia mengerakkan bagian2Nya? Ini sering kali, membuat saya geli akan pemahaman mereka... padahal jelas2 di Quran.. Setiap beliau bekerja, maka Beliau menyebutnya diriNya dg "Kami", sedangkan di Alkitab, Beliau menyebutnya diriNya dg "Kita". Jelas ini menyatakan sebuah system, Kalau bicara "System", maka pasti ada lebih dari satu komponen. Kalau sdh tau, bahwa ada lebih dari satu komponen...maka komponen yg mana yg harus kita hargai? Ya... kalau kita mau dewasa, tentu semua komponen ya harus kita hargai...

Namun saya harus akui..bahwa untuk memicu kesadaran, terkadang kita butuh hantaman, iming2, dsb.... Namun bila sdh punya kesadaran.. maka kita tidak butuh ajaran2 semacam itu... Jadi lakukanlah atas kesadaran.... Contoh kecil:
-ada orang tua... melihat akan itu... kita tergetar untuk membantunya. Dan ketika ditanya mengapa? Tentu jawabnya, Ini sdh jadi tugas saya, karena saya adalah bagian Brahman.

Tapi bagi orang yg blm cukup kesadarannya.... maka agar mau menolong, harus pakai perintah atau iming2 atau ancaman. Shg klo ditanya, mangapa anda menolong orang tua itu? Tentu jawabnya, ya karena... salah satu faktor diatas... klo tidak perintah, ya iming2, atau ancaman.


Di Veda, tidak pernah mengatakan bahwa ada suatu lakon/aksi yg bersifat kesia2an. Semua ada pesan/tujuannya, yg mana untuk menggetarkan bagian lain... Sedangkan di Abramik... ada perbuatan yg dianggap sia2.... dimana perbuatan itu yg dilakukan oleh setan....Jadi konsep Ruawbineda jelas tidak ada di abramik.... Jadi pemahaman mereka itu, adalah Putih itu Allah, Hitam itu Setan. Sementara di Veda, Ruawbineda adalah kesatuan...dan itu semua dikuasai oleh Brahman.
Ini yg membuat semakin kabur, esensi dari kehidupan bagi ajaran abramik. Karena jelas...bagi ajaran abramik, Hidup adalah cobaan/test saja. Tapi di Veda, Hidup itu bertujuan merealisasikan keinginan. Sehingga kita disini untuk bekerja, bekerja untuk Brahman.
Ini kalau diumpamakan, kita spt telapak tangan.... lihat... ketika kita ingin membersihkan kedua telapak tangan kita dari debu... maka kita sengaja untuk mengadukan ke dua telapak tangan kita...plok...plok...plok...shg debunya bejatuhan dan bersihlah kedua telapak tangan kita.
Lihat...lebih dalam lagi... maka kita bisa lihat... bahwa kedua telapak tangan kita seolah saling menghajar/memukul.... ya seperti anda dg musuh anda,
Shg itu terjadi... maka kita tidak perlu dendam...anggap itu sesuatu yg digariskan oleh Brahman.... Lakukan secara dharma... Bila itu anda anggap yg terbaik, maka kerjakanlah....

Ini seperti yang dikisahkan pada purana-purana. Dimana Narasinga harus bertemu dengan Hiranyakashipu, Rama harus bertemu dengan Rahwana, dan Kresna harus bertemu dengan Kamsa.
Sementara Kedua tokoh di ketiga babak cerita tsb, ya ...itu itu saja. Artinya Narasinga, Rama, dan Kresna adalah penjelmaan Visnu... dan Hiranyakashipu, Rahwana, dan Kamsa adalah penjelmaan dari abdinya Visnu...
Hal ini menunjukkan, jelas aktor yang melakukan kejahatan... dan itu adalah lakon/tugasnya.

Mungkin anda bertanya, mengapa ada aktor yg mau memerankan kejahatan? Ini sekali lagi, seperti halnya buruh petani yg harus bermain dg lumpur sawah. Kalau secara nalar, maka apakah buruh petani itu bodoh sekali? Kalau lah itu memang tugasnya, mengapa buruh petani itu harus bersih-bersih dulu sebelum ia pulang? Bukankah harusnya kekokotoran yang dibawa oleh buruh petani itu dapat dimaklumi?
Dari analogi tsb, mungkin dapat membuka wacana/pandangan kita dalam melihat sesuatu yg berlawanan dg lakon kita, dimana sering kita identikkan dg istilah “Musuh Kita”. Sedangkan interaksi kita dg “Musuh Kita” adalah sebuah getaran yg menggetarkan pihak lain untuk bekerja.

Jadi sadarlah.... tidak ada sesuatu pekerjaan yg sia-sia... karena semua itu adalah kehendak dari Brahman.

AUM SANTI… SANTI… SANTI…AUM.


Read more.....

Rabu, 11 Agustus 2010

Pura Ponco Sono Giri

Pada tanggal 26 Juli 2010…Pura ini melaksanakan piodalan dimana bertepatan juga dengan rampungnya renovasi padmasana. Saya sendiri saja agak mengkuatirkan usaha ini, karena para pengempu pura ini boleh dikatakan kelas ekonomi menengah kebawah (termasuk saya sih… hehehehe). Tapi sekali lagi oleh kekuatanNya dan usaha pengempu pura maka jadilah perenovasian padmasana pura ini.


Pura ini membawa nilai tersendiri bagi saya pribadi, karena di tempat inilah saya dibersihkan dan menyadarkan saya tentang karma saya yang sangat hina. Dengan model yang sederhana, membuat hati saya terenyuh… Beliau yang mulia, agung saja mau duduk di kursi yang sederhana begini… mau mendengarkan keluhan orang-orang yang tidak berkelas begini. Sungguh pura ini dapat melukiskan kemahaanNya… Maha segalanya untuknya.


Sejerah pura ini sangat atik… di sekitar pura ini terdapat sebuah punden yang dipercayai oleh masyarakat disekitar sana sebagai peninggalan kerajaan. Jadi tiap hari tertentu maka semua masyarakat itu berkumpul dan membawa sesajen. Melihat gelagat/corak masyarakat itu, maka PHDI mencoba untuk meluruskan agar ritual-ritual yang beresensi suci tersebut agar tidak disalah gunakan.


Namun usaha tersebut tidak mudah seperti membalikkan tangan saja. Banyak rintangan-rintangan dari saudara-saudara kita yang beropini bahwa itu adalah langkah melegalkan kemusrikan. Namun karena kegigihan dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan umat Hindu, maka direstuilah pembangunan pura di area punden tersebut oleh Bapak Camat saat itu… Astungkara deh… terwujudlah satu rumah lagi untuk Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga umat/masyarakat di sekitar pura tersebut yang hendak berexpresi mengabdi kepadaNya, tidak usah jauh-jauh. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa umat dari non Hindu yang tetap taat untuk mengaturkan sesajen di punden itu.





















*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT = 112,702729°, LS = 7,277650° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang (Lihat Peta). Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu, maka kunjungi pura ini, dan jangan lupa Bantulah pura ini dengan kemampuan anda miliki, bisa dengan pikiran, tenaga, kasih, ataupun harta.



Read more.....

Minggu, 06 Desember 2009

Point GPS Pura-Pura

AUM SWASTIASTU, ….

Jaman teknologi sudah maju... Ini terbukti dengan ada sarana GPS. Mungkin tidak asing lagi bagi kita semua dengan istilah GPS (Global Position System). Dengan ini kita dapat menandai suatu daerah, sehingga bila kelak kesana maka kita tigak perlu bingung-bingung lagi.

Memang kita akui pembangunan pura tidak semudah membangun masjid/gereja. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,antara lain: Tidak mudahnya untuk mendapat ijin, Dana, Serta biasanya pembangunan pura itu di daerah-daerah yang bernilai (Baik itu secara sejarahnya, auranya, dan lain sebagainya). Dari faktor itu dah dapat tergambar bahwa letak/posisi Pura kebanyakan belum beralamat jelas... Gimana mau jelas...wong kadang-kadang jalan menuju kesana saja harus jalan setapak kok.

Tapi tenang...ada GPS, berikut ini adalah daftar point-point GPS Pura yang pernah saya kunjungi:

Klik Link ini : Peta
(http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF&msa=0&msid=216649971231367326454.0004ab9a01791c9c83dec)
Link ini terus saya update kok...

AUM SANTI… SANTI… SANTI…AUM.


Read more.....

Pura Kerta Buana – Gresik

Setelah dari Pura Kerta Bumi, kami lanjutkan lagi perjalanan kami menuju ke sebuah pura. Letak pura tersebut tidaklah jauh dari pura Kerta Bumi, kira-kira 0,5Kilo meteran. Berhubung kami masih awam daerah situ, kami diantarkan oleh salah satu warga yang sedang ngayah (kerja bakti) di pura Kerta Bumi. Itupun mereka sendiri yang menyarankannya. Sebelumnya kami juga diberi mangga oleh warga disana… waduh rasanya jadi malu …hehehehe… Akhirnya berangkat lah kami dengan panduan seorang guide. Dan Tibalah kami di pura yang kami tuju… Mungkin kami adalah orang-orang yang sangat sempit pandangannya, dimana sebagai ucapan terimakasih, kami ingin memberi uang rokok kepada orang yang telah menjadi guide. Ternyata hal malah dianggap sebuah penghinaan, dimana dia berkata, “Kalau bapak ibu tetap memaksa agar saya mau menerima uang ini, maka lain kali saya tidak akan mau membantu anda lagi lho dan tidak akan menganggap anda sebagai saudara kami.”, sambil tersenyum lembut.


Sejenak saya berpikir, “Masih ada tho orang yang mau membantu tulus iklas?”. Sebab saya saja kalau ke singaraja, ketika saya Tanya rumah nenek saya saja… eh…langsung ditawari untuk jadi guide nya… dan Tentu dong ada imbalannya. Sungguh perbedaan yang sangat jauh… Tapi aku ya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, mungkin ini terpengaruh oleh desa kali patra. Akan tetapi dari sini saya dapat pembelajaran Tat Twam Asih, dimana janganlah dikit-dikit bicara tentang imbalan, kerja lah buat sesamamu seolah-olah apa yang kamu kerjakan adalah untuk dirimu sendiri.


Dari halaman pura, kami sudah disambut oleh seorang pemuda. Dia menerangkan bahwa pura ini bernama pura Kerta Buana. Kisah pembangunan pura ini juga tak jauh beda dengan pura-pura yang telah kami kunjungi, yaitu: atas usaha umat sendiri. Walaupun ada oknum-oknum pemerintahab yang berusaha untuk mempersulit pembangunan, namun… Astungkara lah pura Kerta Buana ini tetap berdiri. Saya melihat ada gong jawa, tatanan yang cukup rapi dimana menandakan pura ini terawatt dengan baik. Sehubung kami tiba pada pukul 17.45 wib, maka oleh penjaga pura ini dimohon agar kami ikut persembahyangan bersama. Undangan tersebut tentu kami terima, karena kami juga ingin merasakan keguyuban warga Hindu Bongso ini.












Telah terdengar mantra-mantra yang dikumandangkan oleh pemangku. Ini berarti upacara persembahyangan akan segera mulai. Sehingga masuklah kami ke Mandala utamanya, tak lama kemudian satu per satu umat pada masuk. Kumerasa ada hal yang mengharukan, baik muda maupun orang tua, ada orang yang berpakaian adat jawa, semua berkumpul untuk menyembah Hyang Widhi. Ditambah dengan kidung-kidung jawa, seraya aku hidup dijaman Majapahit… Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.


Setelah upacara persembahyangan selesai, kami berbincang-bincang sama warga. Sungguh ku merasa damai. Namun sayang beribu sayang, rupanya sang kala tak mau kompromi lagi, dimana esok kuharus kerja sehingga aku harus pulang untuk mempersiapkan esoknya. Batinku hanya bisa mengucapkan, “Terimakasih Tuhan, Kau telah menunjukkan rumah-rumahMu, dan bantulah kami untuk lebih memahamiMu.”.







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT = 112,614680°, LS = 7,274110° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu, maka kunjungi pura ini, dan jangan lupa Bantulah pura ini dengan kemampuan anda miliki, bisa dengan pikiran, tenaga, kasih, ataupun harta.



Read more.....

Jumat, 20 November 2009

Pura Kerta Bumi - Gresik

Karena keterangan dari penjaga Pura Jagad Dumadi bahwa pura ini bukanlah di daerah Bongso, dan menurut sipenjaga pura itu, masih 2,5Kiloan untuk menuju daerah Bongso serta di daerah tersebut terdapat 3 pura lagi. Batinku rasanya bahagia sekali, ternyata ajaran Veda terus bergerak meskipun terjadi pembungkaman disana-sini. Tanpa pikir panjang lagi, setelah dari Pura Jagad Dumadi, kulanjutkan perjalananku ke daerah Bongso. Tapi saya pun belum tau, ke pura manakah saya tuju? Pokoknya bonex lah (bondo nekad) hehehehe... Sesampainya di jalan Made, mobil kami berhenti. Sebab kami tak harus kemana, sambil menunggu masku tanya ke orang2, sejenak saya lihat alam sekitarnya. Batinku berkata, "Hmmm seperti pedesaan ya?". Namun benar, jika anda kesana, maka melihat kebun-kebun...ya seperti layaknya desa..


Beberapa saat masku menuju ke mobil... "Dekat lagi kok" kata masku. Dari informasi yang masku peroleh, akhirnya kami teruskan perjalanan kami. Setelah melalui jalan yg berliku-liku, sampailah kami di sebuah pura. Pura tersebut masih dalam pembangunan. Wah... malu rasanya... kami kesana pakai mobil layaknya pejabat yg sidak, tapi kesana tanpa bawa apa-apa. Karena sudah sampai, mau gak mau harus masuk... Masuklah kami ke pura itu. Kami disambut dengan ramah, melihat jalanku susah, langsung ada orang yang membantu...pokoknya welcome deh...








Umat-umat lagi pada masang paving






Umat-umat kerja bakti untuk membuat pintu masuk






Gapura menuju mandala utama

Sejenak saya ambil gambar-gambar dengan kamera HP saya. Terlihat orang-orang ngayah (kerja bhakti) dengan tulus iklas. Memang mandala madya sampai keluar belumlah rampung penuh, namun sudah dapat dilihat hasil pembangunannya. Kemudian seperti biasa kami langsung menuju mandala Utamanya untuk bersembahyang. Ketika saya masuk, wah... saya disuguhi hasil pembangunan yang bagus sekali... Rumput tertata rapi, terus gapura untuk masuk begitu bagus, pokoknya bagus deh... Bersembahyang kami di sana. Selesai bersembahyang, kami dihampiri sama pemangku, terjadilah dialog. Ternyata terbangunnya Pura ini atas kesadaran umat di lingkungan Bongso ini. Masyarakat di sekitar pura ini, pada umumnya bermatapencarian sebagai petani. Dan masih kental dengan logat madura. Kesadaran masyarakat di sekitar pura ini kian terpicu oleh adanya penumpasan PKI. Pada saat itu partai-partai yang pro PKI ikut terlindas, walaupun mereka ya beragama Islam. Sehingga kelompok-kelompok ini kian merasa dilecehkan. Mereka dianggap kotor, hina, dan lain sebagainya. Diajaran Hindu diajarkan bahwa bukanlah kemenangan yang menjadi target, malainkan kedamaian & keseimbangan lah yang kita tuju. Dari situlah masyarakat Bongso beralih ke agama Hindu.


Pembangunan pura atas usaha masyarakat sendiri. "Dulu kami kalau bersembahyang di gubuk kecil, yang sekarang dijadikan sekolah TK Saraswati", papar pemangku. Kemudian ada orang menjual lahan ini, dibelilah oleh umat untuk dijadikan pura yang dinamai Pura Kerta Bumi. Mungkin patut kita catat bahwa penjual lahan hanya memberikan waktu 3 hari untuk membeli lahan itu, jika tidak bisa maka diberi ke pihak lain. Bayangkan cuma 3 hari harus mengumpulkan dana yang besar. Padahal taraf ekonomi masyarakat sini adalah menengah kebawah. Mungkinkah terbeli umat? Namun kalau sudah Hyang Widhi berkehendak, itu seolah-olah seperti hal sepele. Jadi ada umat yang rela menjual kambingnya, ada umat yang rela menjual sapinya, ada umat yang rela menjual perhiasannya, demi terbelinya lahan untuk nantinya dibangun pura. Kalau mendengar itu, sungguh mereka berkorban demi Hyang Widhi...Malu rasanya diriku ini?


Menurut pengakuan masyarakat Bongso bahwa ketika mereka mempelajari & menerapkan ajaran Veda, maka mereka merasa damai, mereka bisa menghargai alam dan bahkan orang-orang yang bersebarangan sekalipun. Memang di Hindu, Tak ada istilah kafir, Tak ada istilah sesuatu yang hina, Karena mereka yang bersebarangan dengan kita, maka kita anggap penyeimbang kita. Jadi tetap kita anggap sesuatu yang berguna untuk kita. Itulah uniknya ajaran Hindu, yang sulit kita temui di ajaran lainnya. Dan yakinlah mereka (yang menolak otoritas Veda pada dirinya) pasti akan kembali lagi ke ajaran Veda untuk bersatu kepadaNya. "Jadi kami disini tidak ada ambisi untuk menghindukan semua orang, kami ini tidak ada ambisi untuk menguasai atau memenangkan sesuatu. Kami hanya menjaga keseimbangan, kedamaian, berkerja sama untuk menjadikan sesuatu yang dikehendaki oleh Hyang Widhi", tegasnya pemangku. Well...kata-kata yang bijak sekali....







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT= 112,620870°, LS= 7,275891° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu yang diberi rejeki yang melimpah olehNya, maka sisihkan rejeki anda untuk pura ini. Jadi mari kita bantu!!



Read more.....

Selasa, 17 November 2009

Pura Jagad Dumadi – Laban – Gresik

Sesungguhnya pada hari Minggu, 15 Nopember 2009, aku akan melewatinya dengan biasa-biasa saja. Tanpa terpikir mau jalan-jalan, rekreasi, atau bekunjung ke sanak saudara. Tetapi entah mengapa kok tiba-tiba terbesit di pikiranku untuk memanfaatkan mobil kantornya mas, dimana pada hari tersebut kebetulan ada dirumahku. Rupanya pikiranku tersebut rupanya mendapatkan dukungan dari bapak & ibuku. Disini, bila kucermati, sudah ada sesuatu yang aneh (tidak masuk akal), karena bapakku adalah orang yang malas banget untuk jalan-jalan atau keluar, bagi dia, rumah adalah istananya yg termegah…hehehe


Tapi saat itu belum terpikir, kemana kita akan pergi. Sehingga kami pun juga bingung, lagipula yang jadi drivernya juga belum ada alias belum pulang dari kerja. Disini kemungkinan untuk batal atau gagal, sangatlah banyak. Jadi niat untuk jalan-jalan tidaklah menggebu-gebu. Jam 12.25, mas Dispan datang dari kerjanya, ini berarti driver nya sudah ready… Oleh karena itu bapakku menggugah niatku lagi…. Ya udah, “Namun kemana?”, tanyaku ke Bapak. Bapak bilang, “Bagaimana kalau ke Gresik? Ke Daerah Bongso”. Daerah ini memang sering kudengar pada saat aku datang di Pura Ponco Sono Giri, namun kami tidak tahu dimana ancer-ancernya. Akhirnya bapakku cari-cari informasi tentang lokasi daerah Bongso tersebut. Setelah tahu… lalu dengan menyebut AUM AWIGNAM ASTU NAMO SIDEM, berangkatlah kami menuju ke daerah yg diinformasikan itu.


Sesampai di daerah Menganti, ketimbang nantinya terlalu jauh tersesatnya maka mas ku tanya kepada seorang ibu. Didalam dialognya, mas ku bertanya “Bu, tau pura di daerah ini?”. Ibu itu langsung menjawab “Oh dekat… langsung saja masuk di gang itu”, sambil menunjukkan arah gang…. Bergeraklah kami kearah yang ditunjuk ibu itu… Dan ketemulah Pura yang bernama Jagad Dumadi. Pura yang tidaklah terlalu besar, dan dihimpit rumah-rumah penduduk, dimana seolah-olah pura itu ada untuk memberi kedamaian di sekitarnya.


Masuklah kami ke pura itu… di mandala madya (jabe tengah)nya ada dua bale, bale kanan berisi alat-alat gamelan. Dan yang membuat terkejut, di bale kirinya ada ruang operasi radio. Jadi dibuat semacam tempat kerja penyiar atau stasiunnya. Menurut ibu yang bekerja saat itu, radio ini bernama radio “Sradha”. Berdirinya radio ini atas usaha umat-umat sendiri, akunya. Wah… detak kagumku pada kemauan umat-umat Hindu di wilayah tersebut. Kemudian aku, ibu, dan bapakku masuk ke mandala utama, disana aku melihat suasananya telah terbangun cukup bagus. Ditengah-tengahnya ada 2 pohon beringin yang kurasakan ada getar aura yang cukup terasa. Kami terus berjalan untuk mendekati padmasana dan duduk untuk bersembahyang atau mengaturkan syukurku kepada Hyang Widhi bahwa dengan kekuatanNya aku bisa menapakkan kakiku di pura ini.


Seperti biasa, setelah kami bersembahyang, bapak berdialong sama penjaga puranya. Dari kata-katanya, terlihat untuk berdirinya pura ini ternyata melewati masa yang cukup panjang sekali. Dan tak terhitung lagi berapa banyak jerih payah umat-umat yang tercurah ke pura Jagad Dumadi ini. Pada awalnya pura ini masih berupa sanggar kecil yg tepatnya diapit oleh 2 pohon beringin sebelum menuju Padmasana. Terus setiap ada yang menjual tanah di sekitar sanggar tersebut, dibelilah oleh umat-umat Hindu di sekitar wilayah itu. Jadi urunanlah mereka dan tentu dapat donator-donatur dari berbagi sumber. Sehingga dapat dibayangkan betapa tulus iklasnya mereka. Mendengar kata-kata seperti itu, aku merasa kecil banget… jujur saja mungkin aku kalau berdana punia semacam begitu, harus berpikir banyak kali… hehehehe. Tapi kuharap lewat media ini, aku bisa membantu pura Jagad Dumadi… Tapi kesemua itu, kembali lagi pada Hyang Widhi… Dia telah menunjukkan kekuatanNya bahwa Dia memang ada dan ajaran-ajaranNya melalui Veda benar adanya.







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT= 112,618817°, LS= 7,299656° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu yang diberi rejeki yang melimpah olehNya, maka sisihkan rejeki anda untuk pura ini. Jadi mari kita bantu!!



Read more.....

Senin, 16 November 2009

Ibuku Pejuang Cinta Sejati

Hmmm…gak tau… mengapa hari ini aku ingin menulis tentang Ibuku. Apa karena ada sesuatu yang lain pada wanita ini? Ah gak taulah… Ibuku bernama Kusuma Dewi, dia berasal dari keluarga Muslim fanatik… ya pokoknya Tiada Tuhan selain Allah… hahahaha… emang Tuhan gak boleh nama samaran??? Terkadang aku ingin ketawa bila ada orang tidak bijak dalam mengartikan ayat suci tersebut. Kembali ke ibuku, karena ia dilahirkan dari keluarga Muslim, maka secara otomatis ia pun diklaim sebagai umat Muslim. Tapi entah mengapa ia dipertemukan oleh Sang Kuasa dengan kekasih hatinya yang beragama Hindu.


Bapakku seorang Nahkoda kapal penyebrangan… dan aku tak habis pikir…bagaimana bisa meluluh lantakkan hati ibuku hanya dalam 3 hari? Hahahaha… padahal aku saja butuh 6 bulan untuk menggaet hati cewek… Ya … kebesaran Sang Hyang Widhi… apabila itu adalah kehendakNya maka akan terjadi. Padahal bapakku mengaku bahwa saat itu dia telah dijodohkan sama keluarganya. Tapi sekali lagi, bila Sang Hyang Widhi bilang “Tidak” maka ya tidak akan terjadi meskipun rencana itu sangat matang dipersiapkan.


Seiring waktu cinta kasih mereka semakin kokoh dan secara gentlemen bapakku meminta kepada orang tua ibuku, agar mereka diijinkan untuk menikah… Dan hasilnya sudah dapat ditebak yaitu “Ditolak”. Ya… karena cinta kasih mereka sangatlah kuat, akhirnya mereka membuat sebuah keputusan untuk kawin lari. Terus tentang Agamanya??? Pernah ibuku mengatakan bahwa ketika wanita telah memilih seorang pria, maka dialah yang menjadi pimpinan wanita tersebut. Prinsip itu telah ibuku terapkan. Well… prinsip yang bagus, tapi sangatlah bertentangan sama dorgma-dorgma yang ia terima semenjak dari bayi. Bisa kubayangkan betapa banyak cercaan yang ibuku terima dari keluarganya, dibilang murtad lah, tidak tau balas budi… ah macam-macamlah.


Terlebih-lebih ketika ibuku melahirkan aku dalam keadaan cacat…Wah… makin gencar cercaannya, dibilang “kok mau sama kafir ya ini akibatnya”, dan masih banyak hinaan yang menusuk telinga ibuku. Aku sangat takjub sama ketangguhan ibuku… Aku yakin bahwa tidak banyak wanita yang seperti ibuku… karena mantan istriku saja kalah dalam menahan kilian di telinganya dari ibunya… dan meninggalkan cinta yang telah kami bangun selama 5 tahun… Hmmm Ibuku pantas kuacungi jempol.


Sempat kutanyakan, mengapa ibu kuat? Ibuku bilang “Cinta adalah salah satu kekuasaan Tuhan, Sehingga tidak ada kata salah bila kita menyakininya”. Dan dia bilang juga bahwa aku cacat bukan semata akibat dari karmanya dia, melainkan sebagian besar karena dari karmaku sendiri. Hadirnya aku adalah sebuah kesempatan baginya untuk menciptakan karmapala yang baik untuknya. Sehingga dia harus berjuang demi aku… dan setelah kutelaah dengan logika ku maka dia telah berhasil, dia telah mempermudah aku dalam menjalani karmaku yang bila aku tanpa ibuku, jelas aku tak akan bisa menghabiskan karmapalaku dan jelas aku tak akan bisa menciptakan karmapala yg baik yang kelak aku nikmati di suatu hari.



(aku dan Ibuku)


Bukan aku takabur…setelah kubandingkan sama saudara-saudara ibuku, kulihat ibuku bisa disebut berhasil dalam membina keluarganya. Bahkan ada saudara ibuku yang berantakan keluarganya, padahal mereka seagama dan pernikahannya direstui oleh orang tuanya. Bukan itu saja, ibuku juga berhasil dalam menciptakan adi yang CP menjadi orang yang cukup untuk diperhitungkan. Nyatanya dalam umur 23, aku mampu mengajak bapakku ke India , aku bisa bekerja, aku bisa berkarya, aku bisa hidup seperti manusia umumnya. Itu semua karena ketangguhan cinta dari Ibu… I love U, Mom…Cepat sembuh karena aku butuh kamu.


Read more.....

Kamis, 12 November 2009

Pura Tirta Empul (Surabaya)

Memang nama pura ini baru terdengar di telinga saya, entah itu saya kurang mengikuti perkembangan, atau bagaimana... pokoknya nama tersebut cukup asing bagi saya. Ya... mungkin sudah menjadi kemauanNya... sehingga nama pura ini kok sampai di telingaku dan ingin mengunjunginya. Sesungguhnya awal tahunya nama pura ini bermula dari info mbak saya. Kan baru-baru saja ini, mbak saya bertempat tinggal di daerah Lidah Kulon Surabaya. Nah... ketika ia jalan-jalan di sekitar perumahan Babatan Mukti , ia sepintas lalu melihat papan kecil yang semacam penunjuk arah menuju pura.


Singkat cerita, pada hari Sabtu, 31 Oktober 2009, Aku dan Bapakku ingin mencari dan akan bersembahyang di Pura tersebut. Jam 9.25 Wib, berangkatlah kami dengan sepeda motor menuju Babatan Mukti. Sesampainya di daerah tersebut, kami bingung --- Kok gak ada papan penunjuknya, rasanya hampir putus asa. Tapi menurut saya, kalau kembali pulang kok eman/rugi dan masak sih orang-orang pada gak tau. Akhirnya saya bilang aja sama bapak, "Masuk aja ke gang itu... nanti baru tanya-ke orang-orang...". Masuklah kami di gang tersebut (kami tidak tahu gang berapa itu, yang pasti berhadapan sama pintu utama perumahan Babatan Mukti)... Kok kebetulan ada pak polisi... dari keteranganya kami lanjutkan perjalanan kami. Tengah-tengah kami tanya lagi pada orang... Ditunjukanlah gang yang naik dan lebih sempit. Tanpa buang-buang waktu lagi... kami teruskan perjalanan kami, dan Astungkara...sampailah di pura itu.


Sampai di depan pagar pura ternyata masih gembokan, dan tak ada 1 orang pun. Dalam hati kami, "Lewat mana masuknya ini?". Hal ini membuat saya agak panik, sebab entah kenapa tiba-tiba terasa hendak kebelakang. "Wah... Bagaimana ini? Toh kalau kebuka pintu ini, aku ya belum tau bentuk WC nya. Akses gak bagi aku?", batinku makin gelisah. Kegelisahan ku ini dikarenakan kebanyakan pura, WC nya sangat sederhana, sedangkan saya itu berkebutuhan khusus alias cacat. Tetapi tak lama kemudian ada seorang ibu yang bersih-bersih halaman pura ini. Langsung kami minta tolong kepada ibu itu untuk segera membuka pintu pagar pura. Aku sudah gak bisa tenang lagi, dan gak kuat lagi rasanya. Tapi ketika saya ditunjukkan WC nya... Astungkara... ternyata di luar dugaanku. WC nya begitu bagus (bisa kukatakan mewah), sangat akses bagi penderita cacat seperti saya. Ya... itu kebesaran Hyang Widhi... Saya tidak habis berpikir mengapa saya tiba-tiba terasa mau kebelakang...lalu saya gelisah karena di otak saya akan sulit kebelakang... Tapi apa yang kualami sungguh diluar dugaan. Dari itu, saya dapat mengambil pelajarannya... Bahwa janganlah kau takut bila kamu yakin bahwa langkahmu menuju keDia.


Sudah selesai saya buang hajat, sejenak aku beristirahat di bale bengongnya. Saya lihat pura ini, agak beda sedikit dari pura-pura yang pernah saya kunjungi. Dimana saya lihat designnya yang begitu simple, dan tidak terlalu banyak anak tangga. Sehingga ini memudahkan bagi orang-orang yang seperti saya. Lima menitan saya duduk sambil merasakan hembusan angin yang sepoi-sepoi, dimana itu membuat saya segar kembali. Kemudian saya berjalan menuju Mandala Utamanya untuk bersembahyang dan berterima kasih kepada Hyang Widhi yang telah membawaku di sini. Mungkin bagi anda, pengalaman saya diatas sangat sepele dan tidak berarti apa-apa. Tapi bagiku, itu pelajaran bagi saya yang sangat berarti. Bayangkan saja baru pertama kali saya ke pura itu, Dia telah mau memberi pelajaran kepada saya. Ini kurasa bukanlah hal main-mainan... coba kalau itu hal biasa, mungkin saya sampai sekarang ya belum bisa mengambil hikmahnya...


Setelah saya bersembahyang, saya kembali ke bale bengong. Disitu saya berbincang-bincang sama Bapak yang menjaga pura itu. Bapak itu mengatakan bahwa pura ini bernama Pura Tirta Empul. Dahulu sebelum terjadinya Gerakan 30 September, di sekitar daerah ini banyak umat beragama Hindu. Dan dulu memang di pura ini sudah dijadikan sanggar seperti sekolah agama. Dan ketika Gerakan 30 September meletus, ini dijadikan ajang pebumihangusan agama Hindu dengan dalil bahwa orang Hindu adalah PKI. Bapak penjaga pura itu saja mengakui sendiri bahwa dia dipaksa untuk Ngaji Al-Quran, kalau dia tidak mau maka dia dihajar. Tapi mungkin Dia masih ingin disembah dan diyakini menurut ajaran Hindu. Sehingga dengan kekuatan Hyang Widhi dan upaya-upaya dari Parisada Hindu Dharma, akhirnya mampu mengembalikan puing-puing ajaran Hindu yang telah dihancurkan. Serta tidak canggung-canggung pula, Meskipun adanya penekanan-penekanan dari luar, akhirnya Parisada Hindu Dharma juga berhasil membangun Pura Tirta Empul ini sebagai wujud bahwa ajaran Veda telah bangkit lagi. Seiring waktu berjalan, pura ini kembali ke fungsinya semula, dimana saya melihat disamping Mandala Utama terdapat bangku-bangku sekolah. Dan tepat dugaan saya, bahwa itu dijadikan sekolah agama Hindu. Dalam batinku berkata "Memang kita tidak bisa memungkiri kebenaran VEDA... sebab bagaimanapun upaya umat manusia menghapus Veda, Veda akan tetap timbul dan menujukkan kebenaranNya".







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamat Pura Tirta Empul dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT= 112,677329°, LS =7,307325° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi umat Hindu yang diberi rejeki yang melimpah olehNya, maka sisihkan rejeki anda untuk pura ini. Apalagi melihat fungsinya, pura ini adalah pura pendidikan. Dimana pendidikan adalah awal pembentukan jiwa-jiwa suputra bagi bangsa Indonesia . Jadi mari kita bantu!!


Read more.....