Tampilkan postingan dengan label Tirta Yatra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tirta Yatra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Agustus 2010

Pura Ponco Sono Giri

Pada tanggal 26 Juli 2010…Pura ini melaksanakan piodalan dimana bertepatan juga dengan rampungnya renovasi padmasana. Saya sendiri saja agak mengkuatirkan usaha ini, karena para pengempu pura ini boleh dikatakan kelas ekonomi menengah kebawah (termasuk saya sih… hehehehe). Tapi sekali lagi oleh kekuatanNya dan usaha pengempu pura maka jadilah perenovasian padmasana pura ini.


Pura ini membawa nilai tersendiri bagi saya pribadi, karena di tempat inilah saya dibersihkan dan menyadarkan saya tentang karma saya yang sangat hina. Dengan model yang sederhana, membuat hati saya terenyuh… Beliau yang mulia, agung saja mau duduk di kursi yang sederhana begini… mau mendengarkan keluhan orang-orang yang tidak berkelas begini. Sungguh pura ini dapat melukiskan kemahaanNya… Maha segalanya untuknya.


Sejerah pura ini sangat atik… di sekitar pura ini terdapat sebuah punden yang dipercayai oleh masyarakat disekitar sana sebagai peninggalan kerajaan. Jadi tiap hari tertentu maka semua masyarakat itu berkumpul dan membawa sesajen. Melihat gelagat/corak masyarakat itu, maka PHDI mencoba untuk meluruskan agar ritual-ritual yang beresensi suci tersebut agar tidak disalah gunakan.


Namun usaha tersebut tidak mudah seperti membalikkan tangan saja. Banyak rintangan-rintangan dari saudara-saudara kita yang beropini bahwa itu adalah langkah melegalkan kemusrikan. Namun karena kegigihan dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan umat Hindu, maka direstuilah pembangunan pura di area punden tersebut oleh Bapak Camat saat itu… Astungkara deh… terwujudlah satu rumah lagi untuk Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga umat/masyarakat di sekitar pura tersebut yang hendak berexpresi mengabdi kepadaNya, tidak usah jauh-jauh. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa umat dari non Hindu yang tetap taat untuk mengaturkan sesajen di punden itu.





















*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT = 112,702729°, LS = 7,277650° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang (Lihat Peta). Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu, maka kunjungi pura ini, dan jangan lupa Bantulah pura ini dengan kemampuan anda miliki, bisa dengan pikiran, tenaga, kasih, ataupun harta.



Read more.....

Minggu, 06 Desember 2009

Point GPS Pura-Pura

AUM SWASTIASTU, ….

Jaman teknologi sudah maju... Ini terbukti dengan ada sarana GPS. Mungkin tidak asing lagi bagi kita semua dengan istilah GPS (Global Position System). Dengan ini kita dapat menandai suatu daerah, sehingga bila kelak kesana maka kita tigak perlu bingung-bingung lagi.
Memang kita akui pembangunan pura tidak semudah membangun masjid/gereja. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor,antara lain: Tidak mudahnya untuk mendapat ijin, Dana, Serta biasanya pembangunan pura itu di daerah-daerah yang bernilai (Baik itu secara sejarahnya, auranya, dan lain sebagainya). Dari faktor itu dah dapat tergambar bahwa letak/posisi Pura kebanyakan belum beralamat jelas... Gimana mau jelas...wong kadang-kadang jalan menuju kesana saja harus jalan setapak kok.
Tapi tenang...ada GPS, berikut ini adalah daftar point-point GPS Pura yang pernah saya kunjungi:

Klik Link ini : Peta
(http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF&msa=0&msid=216649971231367326454.0004ab9a01791c9c83dec)
Link ini terus saya update kok...


AUM SANTI… SANTI… SANTI…AUM.

Read more.....

Pura Kerta Buana – Gresik

Setelah dari Pura Kerta Bumi, kami lanjutkan lagi perjalanan kami menuju ke sebuah pura. Letak pura tersebut tidaklah jauh dari pura Kerta Bumi, kira-kira 0,5Kilo meteran. Berhubung kami masih awam daerah situ, kami diantarkan oleh salah satu warga yang sedang ngayah (kerja bakti) di pura Kerta Bumi. Itupun mereka sendiri yang menyarankannya. Sebelumnya kami juga diberi mangga oleh warga disana… waduh rasanya jadi malu …hehehehe… Akhirnya berangkat lah kami dengan panduan seorang guide. Dan Tibalah kami di pura yang kami tuju… Mungkin kami adalah orang-orang yang sangat sempit pandangannya, dimana sebagai ucapan terimakasih, kami ingin memberi uang rokok kepada orang yang telah menjadi guide. Ternyata hal malah dianggap sebuah penghinaan, dimana dia berkata, “Kalau bapak ibu tetap memaksa agar saya mau menerima uang ini, maka lain kali saya tidak akan mau membantu anda lagi lho dan tidak akan menganggap anda sebagai saudara kami.”, sambil tersenyum lembut.


Sejenak saya berpikir, “Masih ada tho orang yang mau membantu tulus iklas?”. Sebab saya saja kalau ke singaraja, ketika saya Tanya rumah nenek saya saja… eh…langsung ditawari untuk jadi guide nya… dan Tentu dong ada imbalannya. Sungguh perbedaan yang sangat jauh… Tapi aku ya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, mungkin ini terpengaruh oleh desa kali patra. Akan tetapi dari sini saya dapat pembelajaran Tat Twam Asih, dimana janganlah dikit-dikit bicara tentang imbalan, kerja lah buat sesamamu seolah-olah apa yang kamu kerjakan adalah untuk dirimu sendiri.


Dari halaman pura, kami sudah disambut oleh seorang pemuda. Dia menerangkan bahwa pura ini bernama pura Kerta Buana. Kisah pembangunan pura ini juga tak jauh beda dengan pura-pura yang telah kami kunjungi, yaitu: atas usaha umat sendiri. Walaupun ada oknum-oknum pemerintahab yang berusaha untuk mempersulit pembangunan, namun… Astungkara lah pura Kerta Buana ini tetap berdiri. Saya melihat ada gong jawa, tatanan yang cukup rapi dimana menandakan pura ini terawatt dengan baik. Sehubung kami tiba pada pukul 17.45 wib, maka oleh penjaga pura ini dimohon agar kami ikut persembahyangan bersama. Undangan tersebut tentu kami terima, karena kami juga ingin merasakan keguyuban warga Hindu Bongso ini.












Telah terdengar mantra-mantra yang dikumandangkan oleh pemangku. Ini berarti upacara persembahyangan akan segera mulai. Sehingga masuklah kami ke Mandala utamanya, tak lama kemudian satu per satu umat pada masuk. Kumerasa ada hal yang mengharukan, baik muda maupun orang tua, ada orang yang berpakaian adat jawa, semua berkumpul untuk menyembah Hyang Widhi. Ditambah dengan kidung-kidung jawa, seraya aku hidup dijaman Majapahit… Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.


Setelah upacara persembahyangan selesai, kami berbincang-bincang sama warga. Sungguh ku merasa damai. Namun sayang beribu sayang, rupanya sang kala tak mau kompromi lagi, dimana esok kuharus kerja sehingga aku harus pulang untuk mempersiapkan esoknya. Batinku hanya bisa mengucapkan, “Terimakasih Tuhan, Kau telah menunjukkan rumah-rumahMu, dan bantulah kami untuk lebih memahamiMu.”.







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT = 112,614680°, LS = 7,274110° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu, maka kunjungi pura ini, dan jangan lupa Bantulah pura ini dengan kemampuan anda miliki, bisa dengan pikiran, tenaga, kasih, ataupun harta.



Read more.....

Jumat, 20 November 2009

Pura Kerta Bumi - Gresik

Karena keterangan dari penjaga Pura Jagad Dumadi bahwa pura ini bukanlah di daerah Bongso, dan menurut sipenjaga pura itu, masih 2,5Kiloan untuk menuju daerah Bongso serta di daerah tersebut terdapat 3 pura lagi. Batinku rasanya bahagia sekali, ternyata ajaran Veda terus bergerak meskipun terjadi pembungkaman disana-sini. Tanpa pikir panjang lagi, setelah dari Pura Jagad Dumadi, kulanjutkan perjalananku ke daerah Bongso. Tapi saya pun belum tau, ke pura manakah saya tuju? Pokoknya bonex lah (bondo nekad) hehehehe... Sesampainya di jalan Made, mobil kami berhenti. Sebab kami tak harus kemana, sambil menunggu masku tanya ke orang2, sejenak saya lihat alam sekitarnya. Batinku berkata, "Hmmm seperti pedesaan ya?". Namun benar, jika anda kesana, maka melihat kebun-kebun...ya seperti layaknya desa..


Beberapa saat masku menuju ke mobil... "Dekat lagi kok" kata masku. Dari informasi yang masku peroleh, akhirnya kami teruskan perjalanan kami. Setelah melalui jalan yg berliku-liku, sampailah kami di sebuah pura. Pura tersebut masih dalam pembangunan. Wah... malu rasanya... kami kesana pakai mobil layaknya pejabat yg sidak, tapi kesana tanpa bawa apa-apa. Karena sudah sampai, mau gak mau harus masuk... Masuklah kami ke pura itu. Kami disambut dengan ramah, melihat jalanku susah, langsung ada orang yang membantu...pokoknya welcome deh...








Umat-umat lagi pada masang paving






Umat-umat kerja bakti untuk membuat pintu masuk






Gapura menuju mandala utama

Sejenak saya ambil gambar-gambar dengan kamera HP saya. Terlihat orang-orang ngayah (kerja bhakti) dengan tulus iklas. Memang mandala madya sampai keluar belumlah rampung penuh, namun sudah dapat dilihat hasil pembangunannya. Kemudian seperti biasa kami langsung menuju mandala Utamanya untuk bersembahyang. Ketika saya masuk, wah... saya disuguhi hasil pembangunan yang bagus sekali... Rumput tertata rapi, terus gapura untuk masuk begitu bagus, pokoknya bagus deh... Bersembahyang kami di sana. Selesai bersembahyang, kami dihampiri sama pemangku, terjadilah dialog. Ternyata terbangunnya Pura ini atas kesadaran umat di lingkungan Bongso ini. Masyarakat di sekitar pura ini, pada umumnya bermatapencarian sebagai petani. Dan masih kental dengan logat madura. Kesadaran masyarakat di sekitar pura ini kian terpicu oleh adanya penumpasan PKI. Pada saat itu partai-partai yang pro PKI ikut terlindas, walaupun mereka ya beragama Islam. Sehingga kelompok-kelompok ini kian merasa dilecehkan. Mereka dianggap kotor, hina, dan lain sebagainya. Diajaran Hindu diajarkan bahwa bukanlah kemenangan yang menjadi target, malainkan kedamaian & keseimbangan lah yang kita tuju. Dari situlah masyarakat Bongso beralih ke agama Hindu.


Pembangunan pura atas usaha masyarakat sendiri. "Dulu kami kalau bersembahyang di gubuk kecil, yang sekarang dijadikan sekolah TK Saraswati", papar pemangku. Kemudian ada orang menjual lahan ini, dibelilah oleh umat untuk dijadikan pura yang dinamai Pura Kerta Bumi. Mungkin patut kita catat bahwa penjual lahan hanya memberikan waktu 3 hari untuk membeli lahan itu, jika tidak bisa maka diberi ke pihak lain. Bayangkan cuma 3 hari harus mengumpulkan dana yang besar. Padahal taraf ekonomi masyarakat sini adalah menengah kebawah. Mungkinkah terbeli umat? Namun kalau sudah Hyang Widhi berkehendak, itu seolah-olah seperti hal sepele. Jadi ada umat yang rela menjual kambingnya, ada umat yang rela menjual sapinya, ada umat yang rela menjual perhiasannya, demi terbelinya lahan untuk nantinya dibangun pura. Kalau mendengar itu, sungguh mereka berkorban demi Hyang Widhi...Malu rasanya diriku ini?


Menurut pengakuan masyarakat Bongso bahwa ketika mereka mempelajari & menerapkan ajaran Veda, maka mereka merasa damai, mereka bisa menghargai alam dan bahkan orang-orang yang bersebarangan sekalipun. Memang di Hindu, Tak ada istilah kafir, Tak ada istilah sesuatu yang hina, Karena mereka yang bersebarangan dengan kita, maka kita anggap penyeimbang kita. Jadi tetap kita anggap sesuatu yang berguna untuk kita. Itulah uniknya ajaran Hindu, yang sulit kita temui di ajaran lainnya. Dan yakinlah mereka (yang menolak otoritas Veda pada dirinya) pasti akan kembali lagi ke ajaran Veda untuk bersatu kepadaNya. "Jadi kami disini tidak ada ambisi untuk menghindukan semua orang, kami ini tidak ada ambisi untuk menguasai atau memenangkan sesuatu. Kami hanya menjaga keseimbangan, kedamaian, berkerja sama untuk menjadikan sesuatu yang dikehendaki oleh Hyang Widhi", tegasnya pemangku. Well...kata-kata yang bijak sekali....







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT= 112,620870°, LS= 7,275891° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu yang diberi rejeki yang melimpah olehNya, maka sisihkan rejeki anda untuk pura ini. Jadi mari kita bantu!!



Read more.....

Selasa, 17 November 2009

Pura Jagad Dumadi – Laban – Gresik

Sesungguhnya pada hari Minggu, 15 Nopember 2009, aku akan melewatinya dengan biasa-biasa saja. Tanpa terpikir mau jalan-jalan, rekreasi, atau bekunjung ke sanak saudara. Tetapi entah mengapa kok tiba-tiba terbesit di pikiranku untuk memanfaatkan mobil kantornya mas, dimana pada hari tersebut kebetulan ada dirumahku. Rupanya pikiranku tersebut rupanya mendapatkan dukungan dari bapak & ibuku. Disini, bila kucermati, sudah ada sesuatu yang aneh (tidak masuk akal), karena bapakku adalah orang yang malas banget untuk jalan-jalan atau keluar, bagi dia, rumah adalah istananya yg termegah…hehehe


Tapi saat itu belum terpikir, kemana kita akan pergi. Sehingga kami pun juga bingung, lagipula yang jadi drivernya juga belum ada alias belum pulang dari kerja. Disini kemungkinan untuk batal atau gagal, sangatlah banyak. Jadi niat untuk jalan-jalan tidaklah menggebu-gebu. Jam 12.25, mas Dispan datang dari kerjanya, ini berarti driver nya sudah ready… Oleh karena itu bapakku menggugah niatku lagi…. Ya udah, “Namun kemana?”, tanyaku ke Bapak. Bapak bilang, “Bagaimana kalau ke Gresik? Ke Daerah Bongso”. Daerah ini memang sering kudengar pada saat aku datang di Pura Ponco Sono Giri, namun kami tidak tahu dimana ancer-ancernya. Akhirnya bapakku cari-cari informasi tentang lokasi daerah Bongso tersebut. Setelah tahu… lalu dengan menyebut AUM AWIGNAM ASTU NAMO SIDEM, berangkatlah kami menuju ke daerah yg diinformasikan itu.


Sesampai di daerah Menganti, ketimbang nantinya terlalu jauh tersesatnya maka mas ku tanya kepada seorang ibu. Didalam dialognya, mas ku bertanya “Bu, tau pura di daerah ini?”. Ibu itu langsung menjawab “Oh dekat… langsung saja masuk di gang itu”, sambil menunjukkan arah gang…. Bergeraklah kami kearah yang ditunjuk ibu itu… Dan ketemulah Pura yang bernama Jagad Dumadi. Pura yang tidaklah terlalu besar, dan dihimpit rumah-rumah penduduk, dimana seolah-olah pura itu ada untuk memberi kedamaian di sekitarnya.


Masuklah kami ke pura itu… di mandala madya (jabe tengah)nya ada dua bale, bale kanan berisi alat-alat gamelan. Dan yang membuat terkejut, di bale kirinya ada ruang operasi radio. Jadi dibuat semacam tempat kerja penyiar atau stasiunnya. Menurut ibu yang bekerja saat itu, radio ini bernama radio “Sradha”. Berdirinya radio ini atas usaha umat-umat sendiri, akunya. Wah… detak kagumku pada kemauan umat-umat Hindu di wilayah tersebut. Kemudian aku, ibu, dan bapakku masuk ke mandala utama, disana aku melihat suasananya telah terbangun cukup bagus. Ditengah-tengahnya ada 2 pohon beringin yang kurasakan ada getar aura yang cukup terasa. Kami terus berjalan untuk mendekati padmasana dan duduk untuk bersembahyang atau mengaturkan syukurku kepada Hyang Widhi bahwa dengan kekuatanNya aku bisa menapakkan kakiku di pura ini.


Seperti biasa, setelah kami bersembahyang, bapak berdialong sama penjaga puranya. Dari kata-katanya, terlihat untuk berdirinya pura ini ternyata melewati masa yang cukup panjang sekali. Dan tak terhitung lagi berapa banyak jerih payah umat-umat yang tercurah ke pura Jagad Dumadi ini. Pada awalnya pura ini masih berupa sanggar kecil yg tepatnya diapit oleh 2 pohon beringin sebelum menuju Padmasana. Terus setiap ada yang menjual tanah di sekitar sanggar tersebut, dibelilah oleh umat-umat Hindu di sekitar wilayah itu. Jadi urunanlah mereka dan tentu dapat donator-donatur dari berbagi sumber. Sehingga dapat dibayangkan betapa tulus iklasnya mereka. Mendengar kata-kata seperti itu, aku merasa kecil banget… jujur saja mungkin aku kalau berdana punia semacam begitu, harus berpikir banyak kali… hehehehe. Tapi kuharap lewat media ini, aku bisa membantu pura Jagad Dumadi… Tapi kesemua itu, kembali lagi pada Hyang Widhi… Dia telah menunjukkan kekuatanNya bahwa Dia memang ada dan ajaran-ajaranNya melalui Veda benar adanya.







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamatnya dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT= 112,618817°, LS= 7,299656° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi yang membaca postingan ini atau umat Hindu yang diberi rejeki yang melimpah olehNya, maka sisihkan rejeki anda untuk pura ini. Jadi mari kita bantu!!



Read more.....

Kamis, 12 November 2009

Pura Tirta Empul (Surabaya)

Memang nama pura ini baru terdengar di telinga saya, entah itu saya kurang mengikuti perkembangan, atau bagaimana... pokoknya nama tersebut cukup asing bagi saya. Ya... mungkin sudah menjadi kemauanNya... sehingga nama pura ini kok sampai di telingaku dan ingin mengunjunginya. Sesungguhnya awal tahunya nama pura ini bermula dari info mbak saya. Kan baru-baru saja ini, mbak saya bertempat tinggal di daerah Lidah Kulon Surabaya. Nah... ketika ia jalan-jalan di sekitar perumahan Babatan Mukti , ia sepintas lalu melihat papan kecil yang semacam penunjuk arah menuju pura.


Singkat cerita, pada hari Sabtu, 31 Oktober 2009, Aku dan Bapakku ingin mencari dan akan bersembahyang di Pura tersebut. Jam 9.25 Wib, berangkatlah kami dengan sepeda motor menuju Babatan Mukti. Sesampainya di daerah tersebut, kami bingung --- Kok gak ada papan penunjuknya, rasanya hampir putus asa. Tapi menurut saya, kalau kembali pulang kok eman/rugi dan masak sih orang-orang pada gak tau. Akhirnya saya bilang aja sama bapak, "Masuk aja ke gang itu... nanti baru tanya-ke orang-orang...". Masuklah kami di gang tersebut (kami tidak tahu gang berapa itu, yang pasti berhadapan sama pintu utama perumahan Babatan Mukti)... Kok kebetulan ada pak polisi... dari keteranganya kami lanjutkan perjalanan kami. Tengah-tengah kami tanya lagi pada orang... Ditunjukanlah gang yang naik dan lebih sempit. Tanpa buang-buang waktu lagi... kami teruskan perjalanan kami, dan Astungkara...sampailah di pura itu.


Sampai di depan pagar pura ternyata masih gembokan, dan tak ada 1 orang pun. Dalam hati kami, "Lewat mana masuknya ini?". Hal ini membuat saya agak panik, sebab entah kenapa tiba-tiba terasa hendak kebelakang. "Wah... Bagaimana ini? Toh kalau kebuka pintu ini, aku ya belum tau bentuk WC nya. Akses gak bagi aku?", batinku makin gelisah. Kegelisahan ku ini dikarenakan kebanyakan pura, WC nya sangat sederhana, sedangkan saya itu berkebutuhan khusus alias cacat. Tetapi tak lama kemudian ada seorang ibu yang bersih-bersih halaman pura ini. Langsung kami minta tolong kepada ibu itu untuk segera membuka pintu pagar pura. Aku sudah gak bisa tenang lagi, dan gak kuat lagi rasanya. Tapi ketika saya ditunjukkan WC nya... Astungkara... ternyata di luar dugaanku. WC nya begitu bagus (bisa kukatakan mewah), sangat akses bagi penderita cacat seperti saya. Ya... itu kebesaran Hyang Widhi... Saya tidak habis berpikir mengapa saya tiba-tiba terasa mau kebelakang...lalu saya gelisah karena di otak saya akan sulit kebelakang... Tapi apa yang kualami sungguh diluar dugaan. Dari itu, saya dapat mengambil pelajarannya... Bahwa janganlah kau takut bila kamu yakin bahwa langkahmu menuju keDia.


Sudah selesai saya buang hajat, sejenak aku beristirahat di bale bengongnya. Saya lihat pura ini, agak beda sedikit dari pura-pura yang pernah saya kunjungi. Dimana saya lihat designnya yang begitu simple, dan tidak terlalu banyak anak tangga. Sehingga ini memudahkan bagi orang-orang yang seperti saya. Lima menitan saya duduk sambil merasakan hembusan angin yang sepoi-sepoi, dimana itu membuat saya segar kembali. Kemudian saya berjalan menuju Mandala Utamanya untuk bersembahyang dan berterima kasih kepada Hyang Widhi yang telah membawaku di sini. Mungkin bagi anda, pengalaman saya diatas sangat sepele dan tidak berarti apa-apa. Tapi bagiku, itu pelajaran bagi saya yang sangat berarti. Bayangkan saja baru pertama kali saya ke pura itu, Dia telah mau memberi pelajaran kepada saya. Ini kurasa bukanlah hal main-mainan... coba kalau itu hal biasa, mungkin saya sampai sekarang ya belum bisa mengambil hikmahnya...


Setelah saya bersembahyang, saya kembali ke bale bengong. Disitu saya berbincang-bincang sama Bapak yang menjaga pura itu. Bapak itu mengatakan bahwa pura ini bernama Pura Tirta Empul. Dahulu sebelum terjadinya Gerakan 30 September, di sekitar daerah ini banyak umat beragama Hindu. Dan dulu memang di pura ini sudah dijadikan sanggar seperti sekolah agama. Dan ketika Gerakan 30 September meletus, ini dijadikan ajang pebumihangusan agama Hindu dengan dalil bahwa orang Hindu adalah PKI. Bapak penjaga pura itu saja mengakui sendiri bahwa dia dipaksa untuk Ngaji Al-Quran, kalau dia tidak mau maka dia dihajar. Tapi mungkin Dia masih ingin disembah dan diyakini menurut ajaran Hindu. Sehingga dengan kekuatan Hyang Widhi dan upaya-upaya dari Parisada Hindu Dharma, akhirnya mampu mengembalikan puing-puing ajaran Hindu yang telah dihancurkan. Serta tidak canggung-canggung pula, Meskipun adanya penekanan-penekanan dari luar, akhirnya Parisada Hindu Dharma juga berhasil membangun Pura Tirta Empul ini sebagai wujud bahwa ajaran Veda telah bangkit lagi. Seiring waktu berjalan, pura ini kembali ke fungsinya semula, dimana saya melihat disamping Mandala Utama terdapat bangku-bangku sekolah. Dan tepat dugaan saya, bahwa itu dijadikan sekolah agama Hindu. Dalam batinku berkata "Memang kita tidak bisa memungkiri kebenaran VEDA... sebab bagaimanapun upaya umat manusia menghapus Veda, Veda akan tetap timbul dan menujukkan kebenaranNya".







*)

Karena saya tidak bisa memberikan alamat Pura Tirta Empul dengan jelas, maka saya akan memberikan memberikan point GPSnya. BT= 112,677329°, LS =7,307325° - Ini adalah posisi tepat saya bersembahyang. Saya mengharap bagi umat Hindu yang diberi rejeki yang melimpah olehNya, maka sisihkan rejeki anda untuk pura ini. Apalagi melihat fungsinya, pura ini adalah pura pendidikan. Dimana pendidikan adalah awal pembentukan jiwa-jiwa suputra bagi bangsa Indonesia . Jadi mari kita bantu!!


Read more.....